Bila
kita membahas ini, akan terpusat pada adat istiadat dan budaya yang
ada di Kraton Yogyakarta yang merupakan pusat budaya Yogyakarta
khususnya.
Pada perjanjian Giyanti tahun 1755 yang secara politis terbelahnya
kerajaan Mataram menjadi dua yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan
Yogyakarta, juga menyangkut perjanjian budaya antara Sunan Paku Buwono
III dengan Sultan Hamengku Buwono I, yaitu antara lain bahwa Kasultanan
Yogyakarta tetap melestarikan budaya Mataram Islam , sedangkan
Surakarta mengadakan modifikasi meski masih berpijak pada budaya
Mataram Islam. Adapun yang akan kita bahas di sini adalah tentang
upacara adat dan budaya di Kraton Yogyakarta, yang terdiri atas:
1. Upacara Inisiasi, yang terdiri atas:
a. Parasan
Yaitu upacara potong rambut yang pertama kali bagi seorang putera sultan. Dilakukan saat bayi berumur selapan (35) hari.
Perlengkapannya a.l.: sajen-sajen, air dengan bunga setaman, handuk, sabun, alat cukur, dan pakaian bayi.
Jalannya upacara :
Setelah semua perlengkapan siap di tempat upacara, Sri Sultan hadir dan
duduk di atas kasur (Palenggahan Dalem), kemudian memerintahkan kepada
kyai pengulu untuk memulai do’a bagi putera sultan yang akan di cukur.
Setelah do’a selesai, segera Sri Sultan mencukur rambut puteranya,
dilanjutkan oleh ibunya hingga selesai. Rambut selanjutnya ditanam,
setelah itu, bayi segera dimandikan dengan air bunga dan diberi pakaian
yang bagus, dan upacarapun selesai.
b. Tedhak Siten
Yaitu upacara menginjak tanah yang pertama kali. Dilakukan bila anak berusia 7,8, atau 9 bulan bila anak sudah mulai berdiri.
Perlengkapannya a.l.: sajen-sajen, air bunga setaman, handuk, sabun,
alat mandi, tangga (ondho) dari pohon tebu, alat-alat tulis, uang,
mainan, yang semua ini diletakkan di dalam kurungan (sangkar) yang
khusus dan dihias dengan bunga.
Jalannya upacara :
Setelah Sri Sultan hadir, segera upacara di mulai dari do’a kyai
pengulu. Selesai do’a, anak beserta emban (Inang Pengasuh) masuk dalam
kurungan. Anak dibimbing untuk memilih benda-benda yang ada di dalam
kurungan. Bila anak memilih uang, ia dianggap kelak akan menjadi orang
kaya. Kemudian sianak dibimbing untuk menaiki tangga yang terbuat dari
tebu. Selanjutnya si anak di mandikan dengan air bunga. Setelah
selesai, ibu dari si anak menyebar udhik-udhik, yaitu berupa uang logam
dan beras kuning.
Terkadang upacara ini dilanjutkan dengan upacara Panggangan, yaitu anak
menarik pisang saja dengan jumlah lirang genap bertongkatkan ayam
(ingkung) yang disunduk sebagai teken saat berjalan yang pertama.
c. Supitan
Yaitu upacara sunatan
Perlengkapannya a.l.: krobongan (ruang berbentuk segi empat ditutup
dengan kain sutra putih yang didalamnya ada sebuah kursi dan
sajen-sajen). Pakaian: kepala dengan songkok (bagi putera permaisuri)
atau puthut, baju bludiran tanpa lengan, kamus dan timang, kain pradan.
Jalannya upacara :
Setelah segalanya siap, Sri Sultan memerintahkan kepada Narpa Cundhaka
(ajudan) untuk memanggil putera yang akan disunat. Dengan dibimbing
oleh seorang Pangeran dan beberapa orang pembawa alat perlengkapan
yaitu kebut, ode kollonye, sapu tangan, minum dan cengkal perak, ia
langsung masuk kedalam krobongan untuk disunat. Namun sebelumnya ia di
do’akan terlebih dahulu. Begitu disunat, dihormati dengan bunyi gamelan
Kodhok Ngorek. Setelah selesai ia langsung caos bekti (sungkem)
kepada Sri Sultan. Setelah sungkem ia kembali ke Kasatriyan untuk
beristirahat. Dan upacara selesai.
d. Tetesan
Yaitu upacara sunatan bagi perempuan. Dilaksanakan setelah menempuh usia 8 tahun.
Perlengkapannya a.l.: 2 buah krobongan, sajen-sajen, perlengkapan mandi dan pakaian kebesaran.
Jalannya upacara :
Setelah segala perlengkapan siap, Sri Sultan hadir dan memerintahkan
kyai pengulu untuk mendo’akan puteri yang akan disunat. Usai berdo’a,
puteri dibopong oleh seorang emban masuk dalam krobongan dan di sunat
oleh seorang bidan. Setelah selesai lalu ia dimandikan di krobongan
yang lain dengan air bunga serta dirias dengan busana berkain sabuk
wala pradan. Selanjutnya ia caos bekti (sungkem) kepada Sri Sultan.
e. Tarapan
Yaitu upacara yang diadakan saat puteri menstruasi pertama.
Perlengkapannya a.l.: krobongan, sajen-sajen, perlengkapan mandi, dan busana.
Jalannya upacara :
Setelah semua siap, Sri Sultan Hadir dan menyuruh kyai pengulu untuk
berdo’a. Puteri dimandikan dalam krobongan dengan air bunga. Setelah
selesai ia dirias dengan menggunakan pakaian kebesaran berupa pinjungan
dengan kain batik pradan. Selanjutnya ia sungkem kepada Sri Sultan,
dan upacarapun selesai.
f. Perkawinan
Upacara yang berhubungan dengan perkawinan dilakukan selama beberapa hari, dimulai dengan :
· Upacara Nyanti: calon menantu Sri Sultan masuk ke Kraton untuk di
sangker (karantina). Bagi pria menginap di Dalem Kasatriyan dan wanita
di Emper Bangsal Prabeyaksa.
· Hari berikutnya diadakan Upacara Siraman: memandikan calon pengantin.
Bagi pria bertempat di Gedhong Pompa Dalem Kasatriyan dan wanita
bertempat di kamar mandi Dalem Sekar Gedhatonan.
· Malam harinya di adakan Upacara Midadareni. Pada malam ini bagi calon
mempelai wanita di adakan Upacara Tantingan, yaitu menanyakan kepada
calon mempelai wanita apakah sudah siap melaksanakan Upacara Pernikahan
dengan calon suaminya. Bagi puteri Sri Sultan yang melakukan
penantingan adalah Sri Sultan sendiri. Sedangkan bagi calon mantu Sri
Sultan yang melakukan adalah orang tuanya sendiri.
· Pagi harinya diadakan Upacara Akad Nikah di Masjid Panepen.
· Siang harinya diadakan Upacara Panggih yang berlangsung di Tratag
Bangsal Kencana dengan pakaian kebesaran pengantin corak basahan.
Selesai upacara ini diadakan Upacara Pondhongan (Bila menantu Sultan itu
pria).
· Sore harinya diadakan Upacara Kirab mengelilingi benteng.
· Malam harinya diadakan Upacara Resepsi.
· Pagi harinya diadakan Upacara Pamitan: yaitu kedua pengantin pamit
kepada Sri Sultan Untuk pulang ke rumah pengantin pria, di luar Kraton.
2. Siraman Pusaka
Yaitu Upacara membersihkan segala bentuk pusaka yang menjadi milik
Kraton. Diadakan setiap bulan Suro pada hari Jum’at Kliwon atau Selasa
Kliwon dari pagi hingga siang hari. Biasanya dilakukan selama dua hari.
Adapun bentuk pusaka yang dibersihkan antara lain: tombak, keris,
pedang, kereta, ampilan (banyak dhalang sawunggaling), dan lain-lain.
Pusaka yang dianggap paling penting yaitu: tombak K.K. Ageng Plered,
keris K.K. Ageng Sengkelat, kereta K. Nyai Jimat. Khusus Sri Sultan
membersihkan K.K. Ageng Plered dan Kyai Ageng Sengkelat, setelah itu
selesai baru pusaka yang lain dibersihkan oleh para Pangeran, Wayah
Dalem dan Bupati.
3. Ngabekten
Yaitu Upacara Sungkem dari para kerabat Kraton Yogyakarta. Upacara ini
diadakan setiap bulan syawal bersamaan dengan perayaan Idul Fitri.
Upacara ini dilaksnakan selama dua hari. Sri Sultan menerima permohonan
ma’af dari para kerabat Kraton yakni para Bupati, Pangeran, Tentana
Dalem (wayah, buyut, dan canggah) kaji, dan wedana. Upacara ini
dilaksanakan di Bangsal Kencana dan di Emper Bangsal Prabayeksa. Untuk
para pangeran, bupati, pengulu dan kaji serta wedana dilaksanakan di
Bangsal Prabayeksa Kencana. Untuk para sentana dalem pria di Emper
Bangsal Prabeyaksa. Untuk sentana dalem perempuan di Tratag Bangsal
Prabeyaksa.
4. Sekaten
Perayaan sekaten diadakan pada bulan Maulud atau bulan Robiul Awal,
dalam rangka memperingati hari Maulid Nabi Muhammad SAW, dilangsungkan
selama 6 hari berturut-turut, dimulai tanggal 6 s.d. 12 bulan Maulud.
Dalam perayaan sekaten ini dimainkan dua perangkat gamelan pusaka yang
dikenal dengan nama K.K. Gunturmadu dan K.K. Nagawilaga atau juga
disebut K.K. Sekati.
Sementara itu di alun-alun utara diadakan keramaian dengan berbagai pertunjukkan hiburan dan pameran..
Pertama-tama gamelan sekaten dibunyikan di Bangsal Ponconiti, kira-kira
jam 00.00 WIB kedua gamelan diusung ke Masjid Besar sebelah barat
alun-alun dan diletakkan di Bangsal Pagengan sebelah utara dan
selatan. Dan selanjutnya gamelan tersebut ditabuh setiap hari kecuali
hari jum’at.
Pada
tanggal 12 Rabiul Awal, Sri Sultan hadir di Masjid Besar langsung
menuju ke tempat gamelan dan menyebar udhik-udhik kearah gamelan dan
masyarakat yang hadir di situ. Kemudian Sri Sultan masuk ke Masjid
Besar untuk mendengarkan riwayat Nabi Muhammad SAW yang dilakukan oleh
K. Pengulu. Tepat pada pukul 00.00 Sri Sultan kembali ke Kraton.
Sepulangnya beliau, gamelan sekaten juga dikembalikan ke dalam Kraton.
Pada pagi harinya diadakan Upacara Grebeg. Pada upacara ini dikeluarkan
Gunungan dari Keraton yang di bawa ke Masjid Besar dan ke Pakualaman.
Gunungan ini terdiri dari Gunungan Jantan, Betina, Darat, Pawuhan,
Gepak, dan Kutuk. Pada grebeg Maulud tahun Dal, semua gunungan itu
dikeluarkan.
5. Labuhan
Upacara ini diadakan setiap peringatan Jumenengan Dalem ke Parangkusumo.
6. Busana
Di dalam Keraton Yogyakarta berlaku suatu peraturan secara turun temurun apabila mereka masuk Kraton, yaitu:
a. Bagi Perempuan
Berkain wiron, berangkin (kemben) yang dikenakan dengan cara ”ubet-ubet”, gelung tekuk, tanpa baju dan tanpa alas kaki.

b. Bagi Laki-laki
Berblangkon, baju pranakan, kain batik dengan cara wiron engkol,
berkeris (Bagi yang berpangkat bekel ke atas), dan tanpa alas kaki.
Pakaian tersebut di atas digunakan sehari-hari. Bila ada acara,
mempunyai aturan tersendiri, berlaku bagi kerabat keraton, dan tidak
berlaku bagi wisatawan.
7. Bahasa
Di dalam Kraton Yogyakarta bahasa sehari-hari yang digunakan disebut
bahasa bagongan atau bahasa kedhatonan. Terdiri dari 11 (sebelas) kata,
yaitu:
- Henggeh artinya inggih atau iya.
- Mboya artinya mboten atau tidak.
- Menira artinya kula atau saya.
- Pekenira artinya panjenengan atau kamu.
- Punapi artinya punapa atau apa.
- Puniki artinya punika atau ini.
- Puniku artinya punika atau itu.
- Wenten artinya wonten atau ada.
- Nedha artinya mangga atau mari.
- Besaos artinya kemawon atau hanya.
- Seyos artinya sanes atau lain.
Bahasa ini mulai berlaku sejak pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo
yang memerintah Kerajaan Mataram tahun 1612 -1645, dan dilanjutkan
Sultan Hamengku Buwono I yang memerintahkan Kraton Yogyakarta tahun
1755. Bahasa ini berlaku bagi kerabat kraton bila di dalam Kraton.
Mereka berbahasa Krama Inggil khusus hanya kepada Sultan saja, dan
Sultan berbahasa Ngoko pada semua kerabat, kecuali pada saudara Sultan
yang lebih tua digunakan bahasa Krama Inggil.
8. Tata Krama
Di dalam Kraton terdapat suatu tata cara yang khusus pula. Sembah hanya
diberikan kepada Sri Sultan saja. Bila kita hendak melaksanakan suatu
tugas selalu di dahului dengan sembah dulu.begitu pula apabila kita
dari duduk hendak berdiri.
Di dalam keraton semua kerabat Kraton dianggap sama, terbukti dari
bahasa yang digunakan sehari-hari yakni bahasa bagongan. Sehingga tidak
ada perbedaan antara yang berpangkat tinggi ataupun rendah, serta abdi
dalem dan pangeran.
Di dalam Kraton terbagi atas dua bagian yaitu bagi perempuan di
Kaputren dan bagi laki-laki di Ksatriyan. Batas ini diaktualisasikan
dengan adanya Regol Manikantaya.
Demikian sekilas yang dapat diutarakan tentang Upacara Adat dan Adat
Istiadat yang ada di Kraton Yogyakarta secara garis besar.